Rabu, 24 Juni 2009

GULA ITU PAHIT

Menurut hikayat, dan citarasa lidah, gula itu manis. “Ada gula, ada semut,” begitu kata pepatah. Tapi, ternyata rasa gula itu bervariasi. Ada yang manisnya berlebihan, ada yang kurang manis, dan bahkan ada yang pahit. Tidak percaya? Tanyailah mereka yang hidup dari gula.

Hingga Oktober 2002, industri gula nasional compang camping dihajar gula impor, yang masuk dengan cara “Spanyolan” (separo nyolong). Gula itu dibeli dari pasar internasional yang merupakan sisa atau kelebihan produksi di Negara produsen lain (terutama Brasil, Australia, Thailand). Jadi harganya murah karena dumping.

Belum lagi importir memasukkan gula lewat berbagai fasilitas, terutama BKPM, atas nama “bahan industri.” Maka, masuklah gula mentah (raw sugar) impor, antara lain lewat pelabuhan pabrik baja di Cilegon. Rupanya, bahan baku pabrik baja itu terbuat dari gula mentah.

Gula mentah itu mayoritas tidak diolah lagi. Oleh importir, langsung dipasarkan ke konsumen. Padahal, FAO (Badan Makanan dan Obat-obatan) Amerika Serikat hanya memperbolehkan “anjing, babi, dan kawan-kawannya” (disebut binatang) untuk mengkonsumsi gula. Itupun kalau mereka mau makan gula mentah. Kalau di Amerika manusia tidak boleh makan gula mentah, disini dijual bebas di pasaran.

Gula impor membuat rasa gula sangat manis bagi importir. Tapi, sebaliknya, sangat pahit bagi petani tebu dan kalangan pabrik gula nasional. Utang-utang tak terbayar, dan bahkan bertambah dengan utang baru. Tanpa perubahan kebijakan nasional, dipastikan rasa gula pahit itu bisa benar-benar membunuh 15 juta orang (nasional) atau 9 juta orang (Jatim) yang terlibat dalam industri gula.

Kemudian, turun lah dewi penyelamat berupa Rini Soewandi. Menperindag ini mengeluarkan SK No.643/MPP/Kep/9/2002 yang mengatur impor gula. Yang berhak mengimpor hanya produsen (PTPN) yang menggunakan lebih 75 persen bahan baku tebu rakyat. Ini berarti, hanya PTPN IX, PTPN X, dan PTPN XI yang boleh mengimpor gula.

Dengan SK Menperindag tersebut, industri gula nasional untuk sementara terselamatkan. Bagi PTPN Gula, rasa gula menjadi lumayan manis. Tapi, bagi petani tetap pahit, karena ketika SK itu terbit, tebu mereka sudah habis digiling, dan stok gula mereka juga sudah habis dijual. Utang pun sudah menumpuk.

Jadi, ada perubahan tingkat kemanisan gula. Bagi PTPN Gula, rasanya sudah lebih manis. Bagi petani, masih tetap pahit. Menurut teori, seharusnya juga ada perubahan rasa gula, dari manis menjadi pahit, bagi importir. Tapi, kenyataannya tidak demikian.

Dengan segenap akal, imporir-importir “asal Spanyol” (dengan perilaku “separo nyolong” sebelumnya) itu berpindah lahan, karena mereka masih yakin, rasa gula memang manis. Importir yang tidak pernah membeli gula lokal, seperti Yayat dan Kurmaedi, tiba-tiba muncul di Surabaya dan mendapat jatah membeli ribuan ton gula lokal.

Impotir lain yang reputasinya buruk, seperti Gunawan Mukhlis, malah membangun “pabrik” pemrosesan gula mentah dibawah bendera PT. Lampung Bintang Semesta, atas ijin, lagi-lagi, BKPM. Kedua kasus itu ibarat duel. Musuh sudah kalah, malah memberi amunisi baru untuk membunuh buruh dan petani tebu yang masih sekarat.

Kondisi pergulaan nasional yang masih jauh dari bagus. Implikasi sosial politiknya sangat jelas sepanjang 2003, karena jutaan orang adalah konstituen politik yang potensial untuk menjadi destruktif. Karena itu, pimpinan PDIP misalnya, menegaskan, ini adalah “sektor sensitif” yang “tidak boleh disentuh.” Malah kalau bisa diuntungkan.

Bola kini di tangan direksi tiga PTPN Gula. Karena itu, mereka ditekan kiri kanan, dan diiming-imingi segala macam oleh importir. Supaya mereka tahan, perlu dukungan buruh pabrik (SP-BUN) dan petani (APTR dan lainnya). Kalau tidak, rasa gula itu tetap pahit. Masa kritis ini akan terjadi pada Januari 2003, ketika titik keseimbangan stok gula dan harga tercapai, dan harus mulai ada impor baru.


Ditulis oleh Prof. (Ris) Hermawan Sulistyo MA, PhD, APU dalam bukunya yang berjudul

Republik Burung hantu” 2003

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Newspaper Template Copyright by Brunx Is Slank | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks