Jembatan Suramadu, jembatan yang menghubungkan Pulau Madura dengan Pulau Jawa, akhirnya telah diresmikan oleh Presiden SBY yang datang ke Madura didampingi Ibu Negara. Segala bentuk persiapan untuk menyambut Presiden RI yang akan meresmikan jembatan tersebut disiapkan, jalan – jalan di sekitar kaki jembatan juga dipenuhi baliho – baliho dengan ukuran yang sangat tidak tanggung – tanggung, dengan sangat jelas foto Presiden didampingi Ibu juga didampingi Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim, dan Bapak Bupati serta Wakil Bupati Bangkalan juga tidak mau ketinggalan untuk ikut berpose bersama Presiden RI di baliho. Kabarnya peresmian jembatan Nasional tersebut menelan dana hingga Rp. 1 Milyar. Meskipun sejauh ini penggarapannya belum seratus persen selesai, seperti masih banyaknya jalan tol menuju dan dari jembatan yang belum di aspal halus, tetapi tetap saja di resmikan. Terkesan sangat tergesa – gesa, atau mungkin memang sangat mendesak dan harus segera diresmikan.
Masyarakat Madura (rata – rata) menyambut baik kehadiran jembatan Suramadu, atau mungkin berharap banyak pada jembatan tersebut. Pasalnya jembatan itu manjanjikan kemajuan bagi masyarakat Madura. Banyak sektor yang akan masuk ke Madura, baik itu Industri, pertambangan, pariwisata, dll, itu berarti akan ada harapan perbaikan perekonomian masyarakat kedepan. Banyak pula lembaga – lembaga otonom yang mencoba mengawal dan merumuskan madura pasca suramadu, hal tersebut dilakukan demi tercapainya harapan masyarakat pada jembatan tersebut. Tapi pertanyaannya adalah, sudahkah siap masyarakat Madura menghadapi tantangan yang akan diberikan jembatan tersebut?.
Terutama dari sektor pendidikan, Masyarakat Madura bisa dibilang masih minim dalam hal Pendidikan, bahkan banyak sekali yang tidak pernah merasakan duduk di bangku sekolah semasa hidupnya, juga yang tak kalah menarik, banyak sekali anak – anak yang notabene berpotensi tetapi buru - buru harus putus sekolah atau bahkan diputuskan sekolahnya dengan berbagai alasan. Hal ini terbukti dengan masih tingginya tingkat kebodohan dan masyarakat buta aksara di Madura. Dan yang paling parah adalah, dari data Depdiknas www.pnfi.depdiknas.go.id mengenai 50 Kabupaten dengan Penduduk buta aksara usia 15 tahun ke atas terbanyak per Desember 2008 menyebutkan bahwa Kabupaten Sampang memperoleh peringkat ketiga dengan jumlah 173.773 orang, dan Kabupaten Sumenep memperoleh peringkat keempat dengan jumlah 170.560 orang. Sungguh angka yang sangat mencengangkan untuk ukuran daerah yang akan menyambut tantangan global dari Suramadu.
Angka buta huruf memang berkorelasi dengan angka kemiskinan. Sebab, penduduk yang tidak bisa membaca secara tidak langsung mendekatkan mereka pada kebodohan, sedangkan kebodohan itu sendiri mendekatkan mereka pada kemiskinan. Gambaran tentang hubungan kebodohan dan kemiskinan bisa diperjelas dengan asumsi seperti ini bahwa orang bodoh bisa dibodohi, oleh karena itu, mereka juga bisa dengan mudah dimiskinkan. Oleh karena itu, sebagai jalan untuk memberantas kebodohan itu, penduduk harus dicerdaskan. Buta huruf yang selama ini menjadi faktor mereka dicap sebagai orang bodoh harus diperangi dengan jalan pendidikan. Upaya pemberantasan buta huruf di
Karena akan banyak berdatangan Industri yang akan masuk ke Madura, itu berarti akan banyak lapangan pekerjaan yang ditawarkan pada masyarakat khususnya masyarakat Madura. Jika masyarakat Madura belum siap menghadapi lapangan pekerjaan dengan standar konsekuensi pendidikan yang telah ditentukan perusahaan, maka yang akan terjadi adalah, masyarakat Madura akan tergeser dan tergantikan oleh orang – orang pendatang yang memenuhi standar konsekuensi yang telah ditentukan. Dengan kondisi pendidikan masyarakat seperti sekarang, itu berarti masyarakat lebih memilih menjadi penonton dalam menyambut datangnya Jembatan Suramadu, atau kalau boleh sedikit diperhalus bahasanya, masyarakat Madura lebih memilih pasrah dan kalah dijajah dirumah sendiri daripada harus melawan dan Menang. Jika hal ini benar – benar terjadi, manfaat apa kemudian yang diterima dan dapat dinikmati oleh masyarakat Madura?
Lalu apa langkah kongkret pemerintah terutama dalam hal persiapan pendidikan yang diberikan pada masyarakat Madura untuk menghadapi tantangan tersebut? Menoleh ke Fenomena yang terjadi di Kabupaten Sampang saat ini, siapa yang salah? Pemerintah atau Masyarakatnya?, tentunya dalam hal ini tidak ada yang mau disalahkan, karena semuanya sama – sama salah. Kesadaran pendidikan masyarakat Masih terbilang sangat rendah dan menganggap tidak terlalu penting pendidikan, contoh kasus yang terjadi misalnya, banyak orang tua yang terpaksa atau memaksa anaknya untuk putus sekolah karena alasan tidak ada biaya, mereka berpikiran lebih baik anak – anak mereka membantu orang tuanya mencangkul disawah, karena bisa membantu perekonomian keluarga. Dan yang lebih ironis lagi, ada orang tua yang bisa dibilang mampu dalam hal finansial tetapi sengaja memutuskan sekolah anak – anak mereka dengan alasan sekolah hanya buang – buang biaya, energi, dsb. Beberapa contoh diatas menunjukkan bahwa kesadaran pendidikan di Madura masih sangat rendah dan masih sangat membutuhkan perhatian yang ekstra terutama dari pemerintah untuk menumbuhkan kesadaran tersebut.
Dari pihak pemerintah, sejauh ini jarang atau bahkan belum ada upaya maksimal dalam rangka perbaikan kualitas pendidikan di Madura, terutama di daerah – daerah terpencil (Utara Pulau Madura), jika ada alasan orang tua yang mengeluh tentang biaya pendidikan, lalu kemana larinya program pemerintah melalui Disdik yang disebut Bantuan Operasional Sekolah (BOS)? Sejauh ini BOS belum maksimal, masih ada saja atau bahkan banyak penyimpangan – penyimpangan yang terjadi. Jika dana BOS digunakan secara maksimal, pasti banyak orang tua – orang tua tidak mampu yang akan mengembalikan anak – anak mereka ke bangku sekolah, dan yang sangat perlu diperhatikan juga selain bantuan operasional sekolah adalah sosialisasi pentingnya pendidikan bagi usia produktif untuk masa depan mereka dan masa depan bangsa ini.
Pilpres 2009 sudah semakin dekat, itu berarti seluruh rakyat
Sebenarnya ini hal yang wajar dan hukumnya sah – sah saja dilakukan, selama ada hubungan timbal balik yang sama – sama bermanfaat kepada kedua belah pihak yang dalam hal ini pemerintah (yang punya kepentingan politik) dengan masyarakat yang akan menerima konsekuensi pasca peresmian. Lalu kontribusi apa yang telah diberikan pemerintah kepada masyarakat yang paling terutama dalam hal pendidikan?. Nihil. Padahal dalam Bab IV Pasal 5 ayat 1 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan, "Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu." Kita bisa melihat bahwa secara konstitusional negara memang memperhatikan dan menjamin hak warganya guna memperoleh pendidikan. Jaminan tersebut dipertegas dengan bab IV Pasal 11 ayat 1 UU yang sama berbunyi, "Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan serta menjamin terselenggaranya pendidikan bagi warga negara yang berusia tujuh sampai
Tetapi yang terjadi sampai hari ini Jembatan Suramadu hanya digunakan sebagai lahan politik saja. Dengan diresmikannya jembatan tersebut diharapkan bisa memberikan dukungan suara sebanyak – banyaknya di Pilpres 2009 nanti kepada yang telah meresmikan. Kalau begitu dirubah saja nama jembatannya dengan Jembatan Politik Suramadu, agar semuanya jelas kalau dibalik jembatan itu ada ladang politik yang sangat subur. Itu kalau pemerintah sudah tidak peduli dengan masyarakat Madura. Tetapi jika pemerintah masih bisa melihat peta Pulau Madura berada di dalam NKRI, dan menganggap masyarakat Madura sebagai bagian dari rakyat Indonesia, yang sangat membutuhkan “cakupan gizi” yang baik dalam hal Pendidikan untuk mengahadapi tantangan Jembatan Suramadu, maka sangat baik sekali Pemerintah terutama SBY jika saat ini dibuka dengan seluas – luasnya akses pendidikan yang berkualitas untuk Masyarakat, terutama Masyarakat miskin. Semuanya belum terlambat. Masyarakat masih bisa belajar, itu berarti Masyarakat akan lebih siap dalam menghadapi tantangan dari jembatan tersebut. Dengan demikian akan ada jaminan masyarakat Madura akan lebih baik atau bahkan jauh lebih baik dari hari ini. Insya Allah….
LANJUTKAN…..!!!




0 komentar:
Posting Komentar